Aku, Kau, dan Dia

Jumat, 07 Desember 2012

Namaku Tisa. Saat ini, aku duduk di kelas 9 SMP. Aku mempunyai banyak sahabat, seperti Mutia, Zico, dan Lila. Namun, di antara mereka bertiga, Mutia adalah sahabatku yang paling dekat. Aku dan Mutia seringkali bersama. Bahkan kami berdua mendaftar di tempat bimbingan belajar yang sama dan mengambil kelas yang sama.
Seperti biasa, aku dan Mutia masih di sekolah sampai sore. Sebenarnya, kami tidak melakukan apa pun, kami hanya mengobrol dan bergosip bersama yang lain. Memang saat itu, teman kami yang lain sudah pulang lebih dulu.
      Handphone-ku berbunyi tanda ada pesan masuk. Mutia yang sedang memegangnya langsung memberikan hp itu kepadaku sambil berkata, “Tis, nih ada sms masuk.”
           Sambil meraih hp yang diberikan mutia, aku bertanya kepadanya, “Sms dari siapa?”
        Mutia menjawab, “Dari Faza,” ia berhenti sesaat kemudian melanjutkan, “kamu kenal Faza?” tanya Mutia.
     Aku mengangguk sambil membaca sms dari Faza secara sekilas. Aku membalas sms Faza seperlunya. Kemudian aku melihat ke arah Mutia dan tersadar bahwa ia masih memerlukan jawaban, “Eh iya Kenal, kenapa? Kamu juga kenal sama Faza, Mut?” tanyaku sambil menatap Mutia.
       Mutia menggeleng, “Nggak apa-apa, aku cuma nanya. Tapi, aku emang kenal juga sama dia,” jawab Mutia menjelaskan. Lalu dia kembali bertanya, “Kok kamu bisa kenal sama dia, Tis?” tanya Mutia kemudian
         “Jadi gini, dia dulu teman ngaji aku Mut, tapi nggak tahu kenapa belakangan ini dia sering curhat via sms sama aku, karena aku teman yang baik dan tidak sombong ya aku ladeni saja curhatan dia, padahal sebelumnya kami udah lost contact lho,” kataku sambil tersenyum.
Mutia pun tersenyum mendengar jawabanku. “Ah, kamu.”
“Nah, kalau kamu, kenal sama Faza di mana?” tanyaku langsung pada Mutia.
       “Sebenarnya aku nggak kenal langsung sih sama Faza. Jadi, waktu itu, aku dan Dhiya mau berenang. Nah, ternyata Dhiya itu temen SD Faza, Dhiya pun sempet ngobrol sama Faza dan bertanya tentang SMP-nya. Saat itu, Faza jawab kalau dia diterima di SMP 217. Yah, bisa dibilang kalau aku cuma kenal nama Faza aja, palingan kalau kamu nanya sama Faza tentang aku, dia lupa,” jelas Mutia panjang lebar.
       Aku mengangguk-angguk mendengar Mutia bercerita. Kemudian Mutia kembali bertanya, “Memang kalau kalian smsan, Faza cerita apa aja sih Tis?” tanya Mutia.
            “Yaa, banyak deh Mut, tentang berapa kali dia pacaran, terus dia pernah suka sama Egi, tapi pas dia nembak di tolak. Dia juga cerita pernah ketemu Delia dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, ya tapi ya gitu, pas nembak Delia juga nolak.. Akhirnya dia bilang sama aku mau sendiri dulu deeh,” jelasku panjang lebar.
               Mutia tertawa terbahak-bahak sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
               “Heeh Mut, biasa aja kali ketawanya...” kataku kepada Mutia.
               Mutia langsung berhenti tertawa, “Eh, btw, kamu suka Faza, Tis?”
             Aku tertegun mendengarnya. Sebenarnya sih sangat mudah menjawabnya, tinggal bilang “iya” atau “tidak”. Namun, aku sendiri bingung menentukan sikap. Akhirnya, aku hanya menaikkan bahu tanda tidak tahu. Mutia mengerutkan kening, tetapi dia tidak bertanya lebih lanjut.
  “Tis, udah sore nih, anterin aku pulang yuk!” Pinta Mutia. Seperti biasa, Mutia memang sering memintaku mengantarnya sampai di rumah.
         “Tapi ‘kan, nggak ada motor, Mut. Aku nganterin kamu pakai apa?” tanyaku dengan muka memelas.
              “Naik ojek aja atau jalan kaki sekalian Tis, woles,” kata Mutia.
              “Oke, ayo kita pulang!” ajakku pada akhirnya.
  Aku dan Mutia pun beranjak dari bangku dengan harapan menemukan tukang ojek. Namun, tidak ada tukang ojek satu pun. Jalan terakhir yang harus kutempuh ya tentu saja jalan kaki. Entah ini takdir atau atau apa, tiba-tiba di tengah jalan aku melihat Faza. Dengan spontan aku berteriak “FAZAAAAAA‼” tetapi Faza tidak menoleh kearahku.
  Mutia menutup kedua telinganya karena mendengar teriakanku. Ia berkata “Aduh Tisaaaa, kalau mau teriak jangan di kuping aku juga kali... Kuping aku kan jadi pengeng Tis, kamu mah teriak nggak kira-kira sih...” muka Mutia begitu melas saat berkata itu kepadaku.
               Aku tertawa, “Haduuh..... Hehehe maaf Mut,” jawabku terkekeh-kekeh.
               “Tisaaa... Tissaaaa...” kata Mutia sambil menggelengkan kepalanya.
          Setelah mengantarkan Mutia, aku pulang ke rumah. Sesampai di rumah, kembali kutengok handphone-ku yang tergeletak di kasur. Entah mengapa aku menunggu balasan pesan yang kukirim tadi kepada Faza. Aneh, biasanya aku tidak pernah berharap Faza membalas smsku. Biasanya, aku yang terlebih dahulu mengirim sms padanya. Namun, hari ini, Faza yang lebih dulu mengirim sms. Entah kenapa, ada rasa lain yang muncul ketika aku mengetahui dia mengirim pesan kepadaku lebih dulu. Rasa apa ini? Aku berharap rasa ini tidak akan meninggalkan luka di hati.
              Semenjak perasaan yang tak menentu itu, aku jadi lebih sering SMS-an dengan Faza, kami jadi sering curhat satu sama lain. Rasa suka yang awalnya hanya sedikit, kini semakin membesar. “Aduh bagaimana ini? Dia ‘kan temanku, bahkan aku sudah menganggapnya seperti sahabat sendiri, masa aku suka sama dia?” dalam hati aku bertanya-tanya cenderung gelisah. “Duh, pasti jika nanti aku bertemu langsung dengannya, sikapku jadi berbeda,” batinku.
          Seperti biasa, hari ini aku les dengan Mutia, sepulang les aku bertemu dengan Faza, karena kebetulan aku satu tempat les dengan dia, hanya saja berbeda kelas dan waktunya. Benar saja, saat bertemu Faza, aku hanya bisa diam. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun kepadanya, entah karena apa aku dag-dig-dug. Aku langsung menarik tangan Mutia agar buru-buru pulang.
             Aku dan Mutia langsung menuju tempat favorit kami dan memesan minuman. Lalu aku duduk manis sambil memainkan handphone-ku.
             “Tis, kamu kenapa sih? Agak beda hari ini? Kamu menghindari Faza?” tanya Mutia beruntun.
Aku hanya menggeleng. “Aku masih bingung, Mut.”
Mutia terlihat ingin bertanya lagi, tetapi minuman kami telah datang. Karena haus dan memang bermaksud menghindari pertanyaan Mutian, aku langsung menghabiskan minumanku. Ternyata mutia juga sudah menghabiskan minumannya, akhirnya aku mengantarnya pulang.
          Sesampainya di rumah aku membuka handphone-ku dan ternyata ada pesan masuk. Aku terkejut setelah mengetahui siapa yang mengirim pesan kepadaku.
          “Fazaaaa? Haduh dia mengirim pesan apa ya kepadaku?” tanyaku.
          Setelah aku membuka pesan itu, aku merasa senang walau pesan yang Faza tulis sangat singkat, hanya memanggil namaku, “Tis?”. Namun, di samping rasa senang ada rasa takut yang terus menghantuiku. Faza terkenal dengan sebutan playboy. Dia suka berganti pacar. Aku takut rasa ini akhirnya akan membuatku sakit.
            Seperti biasa Faza mengirim pesan kepadaku, tetapi aku sedang mencoba untuk menghindar dari Faza, aku takut sakit hati, apalagi sewaktu aku tahu kalau  perasaan sayang ini benar-benar ada. Aku sempat membuat status di jejaring sosial, kurang lebih bunyinya, “Jatuh cinta pada seorang playboy”. Faza sepertinya menyadari bahwa yang aku maksud dengan playboy itu adalah dirinya. Dan dia pasti akan memberikan harapan palsu kepadaku.
            Oleh karena itu, aku tetap berusaha untuk tidak membalas pesan itu, tetapi Faza terus-menerus mengirim pesan sampai notifikasiku penuh dengan nama Faza.
      Maksudnya apa sih ini? Terus saja dia mengirimkan aku pesan. Apalagi dia bertanya-tanya kepadaku tentang pengakuanku di jejaring sosial itu. Aku pun sudah tidak kuat lagi, akhirnya aku putuskan untuk membalas pesannya itu dengan singkat. Akhirnya kami berdua mengakui tentang perasaan kami masing-masing. Setelah adanya pengakuan itu, aku jadi merasa ada yang mengganjal dalam hatiku. Aku merasa sikapku kepadanya menjadi berbeda.
        Hari Sabtu, tanggal 27 Oktober aku main di rumah mutia. Aku iseng memegang handphone Mutia dan mengirim pesan via whatsapp kepada Faza .
         “Za?” tulisku melalui handphone Mutia.
       Setelah aku tunggu-tunggu balasan dari Faza siang itu, ternyata tidak ada balasan. Aku sudah di suruh pulang sama Ibu, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
         Sore itu, tiba-tiba ada pesan masuk via whatsapp dari Mutia.
         “Tis, Faza balas whatsapp di nomorku yang kamu kirim tadi siang,” isi pesan itu.
         “Dia balas apa Mut?” tanyaku penasaran.
       “Dia balas “ini siapa?” terus aku jawab “ini Mutia, tadi yang nge-whatsapp si Tissa” Faza balas “Ohh yasudah, salam kenal ya” gitu Tis,” balas Mutia.
         “Oh gitu, sip deh,” balasku lagi kepada Mutia.
         “Iya,” balas Mutia lagi kepadaku.
        Seminggu kemudian, di sekolah pada saat jam olahraga, tiba-tiba aku di panggil sama Mutia dan Lila. Awalanya aku bingung, sedikit perasaan cemas. Zico yang sedang bermain bulu tangkis juga dipanggil oleh Mutia dan Lila. Aku semakin heran.
          “Ada apa ini? Apa yang mereka sembunyikan dariku?” batinku cemas.
       Setelah aku, Mutia, Lila, dan Zico sudah berkumpul. Mutia, Lila, dan Zico masih tertawa-tawa, aku hanya bisa diam melihat mereka tertawa. Aku bertanya kepada mereka.
         “Kenapa? Kok tumben manggil aku? Ada urusan penting?” tanyaku kepada mereka.
      Mereka bingung siapa yang mesti mengawali pembicaraan, Zico menyuruh Lila, Lila menyuruh Mutia, Mutia menyuruh Lila. Aku semakin bingung dengan tingkah laku mereka.
         “Ada apaan sih? Jangan buat aku jadi bingung dong!” kataku lagi untuk memulai pembicaraan.
     Mereka tetap saja tidak memedulikan pembicaraanku. Aku berdiri dan hampir beranjak dari tempatku, tetapi Lila menarik tanganku dan menyuruhku duduk kembali. Aku mengikuti perintah Lila.
        “Hmm, jadi gini Tis,” Lila memulainya dengan nada ragu.
     Aku hanya bisa terdiam. Akhirnya Lila memulai pembicaraan lagi, “Kan waktu itu kamu nge-whatsapp Faza pakai handphone Mutia,” Lila berhenti sejenak dan menatap Mutia dan Zico. Lila melanjutkan lagi “Nah, semenjak itu mereka jadi sering whatsapp-an, setelah beberapa hari kemudian, Faza menembak Mutia.”
Mendengar hal itu, jantungku berdegup kencang. Faza menembak Mutia? Tega sekali Faza. Mutia juga, kenapa dia tetap whatsapp-an dengan Faza? Bukankah dia sudah tahu bahwa aku menyukai Faza? Aku merasa dikhianati. Aku kecewa. Sedang asiknya aku berpikir sendiri, Lila melanjutkan, “Tapi, Mutia udah nolak Faza, kok.”
           Aku hanya bisa terdiam, tak bisa berkata sedikit pun. Aku tetap merasa kecewa dan hatiku terasa sangat sakit. Tanpa kusadari airmataku menetes sedikit demi sedikit. Tanpa berkata sepatah kata pun aku berlari meninggalkan mereka. Biarlah, mereka berpikir aku marah karena memang aku sangat marah. Entah kepada Faza atau Mutia yang merupakan sahabatku sendiri.
          Bel berbunyi, tanda pergantian pelajaran. Aku dan teman-temanku yang lain ke kamar kecil untuk berganti pakaian. Karena aku masih merasa sangat kecewa, aku tidak  bisa menahan tangis lagi, akupun menangis. Sangat kecewa, sangat sedih, sangat merasa dikhianati. Tetapi aku mencoba untuk biasa dengan Mutia walau sebenarnya aku marah kepadanya. Tapi mau bagaimana? Mutia tempat curhatku, dialah yang sering membantuku untuk menyelesaikan masalah.
        Sepulang sekolah, Mutia mampir ke rumahku sebentar untuk beristirahat sejenak. Setelah beberapa saat berdiam diri aku memutuskan untuk mengajak Mutia pergi ke Gramedia. Aku dan Mutia beranjak dari rumah dan menuju Gramedia. Setelah aku memilih-milih, akhirnya aku mendapatkan buku yang aku mau. Mutia mengajakku ke tempat karaokean. Aku memesan sebuah ruangan. Aku dan Mutia memasuki ruangan itu. Mutia memiliki pemikiran lain, dia berkata “Tis, ajak Faza aja yuk!” kata mutia kepadaku.
              Aku hanya bisa terdiam, akhirnya aku menjawab pertanyaan Mutia itu, “Ajak aja Mut,” kataku mencoba biasa, padahal hatiku masih terasa perih dengan kenyataan yang ada.
             Melihat perubahan ekspresiku, Mutia bertanya dengan muka cemas, “Tapi kamu nggak apa-apa ‘kan, Tis?”
              “Aku nggak apa-apa kok,” kataku. Tetapi di dalam hatiku ada yang mengganjal saat menjawab pertanyaan itu, aku mencoba biasa di depan Mutia.
             Akhirnya Mutia menelepon Faza agar dia datang ke tempat karaokean. Tanpa berpikir panjang, Faza pun tidak menolak ajakannya. Sesampainya di sana, Faza menyuruh Mutia keluar untuk menemuinya. Namun, aku yang keluar dan mengajak Faza masuk ke ruangan.
Faza duduk, ia memulai pembicaraan, “Kita jadian sekarang aja yuk, Mut,” ucap Faza kepada Mutia. Aku hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Mutia menolak ajakannya. Mutia banyak cerita dengan Faza, aku memperhatikan mereka berdua. Hatiku menahan sakit melihatnya. Akhirnya waktu karaokean sudah habis, kami pun bergegas keluar. Karena kami lapar, kami mencari tempat makan. Sesampainya di tempat makan, aku dan Mutia memesan makanan. Setelah makanan itu datang, kami memakan makanan kami masing-masing. Waktu sudah mulai sore, aku, Faza, dan Mutia bergegas pulang.
         Selama beberapa hari, Mutia mencoba meminta maaf padaku. Bahkan dibantu oleh Lila dan Zico. Akumemaafkan Mutia walaupun masih ada perasaan sakit di dalam hatiku. Tetapi, mungkin rasa sakit yang sakit membuatku masih bersikap dingin di depan Mutia.
         Aku sedang bercanda-canda dengan Mutia dan Lila, kami bermain Truth Or Dare (Jujur atau Tantangan). Ketika Mutia kena giliran, Mutia memilih jujur, aku bertanya, “Mut, kamu sayang sama Faza?” tanyaku kepadanya
            “Enggak kok,” jawabnya singkat.
            “Yakin kamu nggak sayang sama Faza?” tanyaku
          “Iya. Emang kenapa sih Tis? Kamu selalu aja nanya itu kepadaku?” jawabnya dengan nada sedikit kesal.
              “Ya nggak apa-apa, kamu mau jadian sama Faza?” tanyaku lagi.
              “Kalau misalnya aku jadian sama Faza, memang kamu rela?” tanyanya lagi kepadaku.
              “Hmm,” aku terdiam sejenak, “yaa, nggak sih Mut, masih rada gimana gitu,” lanjutku lagi.
              “Ya sudah, jadi maunya gimana sekarang? Aku lihat kamu masih bersikap berbeda dingin sama aku. Aku pengen kita kembali bersahabat seperti dulu,” kata Mutia pasrah.
               “Kamu bisa nggak, nggak whatsapp-an lagi dengan Faza?” tanyaku santai.
             Mutia terdiam. Dengan pelan, dia menjawab, “Ya kalau itu memang mau kamu, InsyaAllah aku bisa.”
            “Kalau memang kamu bisa, nanti malam kamu telepon Faza, bilang kalau kamu ingin menjauh dari dia,” kataku.
             “Iya nanti malam aku ngomong sama Faza,” janji Mutia.
            “Oke deh. Hey, sudah sore nih Mut, pulang yuk!” Ajakku ke Mutia.
         “Ayo deh Tis. Lil, kami pulang dulu ya. Dadah Lila,” jawab Mutia sambil melambaikan tangannya kepada Lila.
         Aku dan Mutia menuju rumah masing-masing. Sesampai di rumah, aku masih bertanya-tanya. Apakah Mutia benar akan mengatakan hal itu kepada Faza? Sebenarnya, aku melakukan ini hanya ingin persahabatan aku dan Mutia kembali seperti dulu, tanpa adanya Faza. Jika mereka jadian, tentunya aku merasa sakit dan persahabatan kami tidak akan sama. Terlebih berita yang kudengar, Faza sangat playboy, aku saja yang menyadari menyukai Faza merasa ragu untuk tetap suka padanya atau tidak. Aku takut Mutia akan sakit hati jika berpacaran dengan Faza karena ke-playboy-annya. Tanpa sadar, aku pun tertidur.
            Hari sudah mulai pagi, aku harus mengerjakan aktivitasku seperti biasa. Sesampai di sekolah, Mutia yang sudah datang lebih cepat dariku dan langsung memanggilku, “Tiss?” panggilnya agak sedikit teriak
              “Ya?” jawabku sambil menghampirinya.
            “Tadi malam aku udah menelepon Faza. Aku udah bilang semuanya kepada Faza. Dia sedikit tidak rela setelah mendengar perkataanku, tetapi karena aku lebih memilih kamu akhirnya dia setuju dengan permintaanku,” jawabnya panjang lebar.
             “Oh ya sudah,” jawabku singkat.
            “Jadi sekarang kita sudah baik-baik saja kan Tis? Mulai sekarang kita harus buka lembaran baru lagi, aku nggak mau seperti ini terus, aku tau bagaimana sakitnya, sekali lagi aku minta maaf ya Tis. Aku mau kita seperti dulu lagi,” Mutia memohon sambil tersenyum.
         “Oke deh Mut, kita harus buka lembaran baru lagi. Sekarang sudah tidak ada masalah lagi di antara kita berdua, tidak ada nama Faza lagi,” kataku sambil membalas senyuman Mutia
           Akhirnya aku dan Mutia berteman kembali, tidak ada masalah lagi di antara kita berdua. Aku dan Mutia pun menjalankan hidupku seperti biasanya.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar Faza sudah jadian dengan seseorang bernama Putri atau siapalah namanya. Aku tidak peduli. Aku sudah tidak ada perasaan sedikit pun padanya. Maklumlah playboy, tidak bisa menjomblo dalam waktu lama. hehe


TAMAT!

http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Lirik Lagu Maroon 5 - Payphone

Maroon 5 - Payphone


I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

Yeah, I, I know it's hard to remember
The people we used to be
It's even harder to picture
That you're not here next to me
You say it's too late to make it
But is it too late to try?
And in our time that you wasted
All of our bridges burned down

I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick

You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow
But just gave it away
You can't expect me to be fine
I don't expect you to care
I know I've said it before
But all of our bridges burned down

I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick

Now I'm at a payphone....

[Wiz Khalifa]
Man work that sh*t
I'll be out spending all this money while you sitting round
Wondering why it wasn't you who came up from nothing
Made it from the bottom
Now when you see me I'm stunning
And all of my cars start with the push up a button
Telling me the chances I blew up or whatever you call it
Switched the number to my phone
So you never could call it
Don't need my name on my show
You can tell it I'm ballin'
Swish, what a shame could have got picked
Had a really good game but you missed your last shot
So you talk about who you see at the top
Or what you could've saw
But sad to say it's over for
Phantom pulled up valet open doors
Wiz like go away, got what you was looking for
Now ask me who they want
So you can go and take that little piece of sh*t with you

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick

Now I'm at a payphone....
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png