Namaku Tisa. Saat ini, aku duduk di kelas 9 SMP. Aku
mempunyai banyak sahabat, seperti Mutia, Zico, dan Lila. Namun, di antara
mereka bertiga, Mutia adalah sahabatku yang paling dekat. Aku dan Mutia
seringkali bersama. Bahkan kami berdua mendaftar di tempat bimbingan belajar
yang sama dan mengambil kelas yang sama.
Seperti biasa, aku dan Mutia masih di sekolah sampai
sore. Sebenarnya, kami tidak melakukan apa pun, kami hanya mengobrol dan
bergosip bersama yang lain. Memang saat itu, teman kami yang lain sudah pulang
lebih dulu.
Handphone-ku berbunyi
tanda ada pesan masuk. Mutia yang sedang memegangnya langsung memberikan hp itu
kepadaku sambil berkata, “Tis, nih ada sms masuk.”
Sambil meraih hp yang
diberikan mutia, aku bertanya kepadanya, “Sms dari siapa?”
Mutia menjawab, “Dari
Faza,” ia berhenti sesaat kemudian melanjutkan, “kamu kenal Faza?” tanya Mutia.
Aku mengangguk sambil
membaca sms dari Faza secara sekilas. Aku membalas sms Faza seperlunya.
Kemudian aku melihat ke arah Mutia dan tersadar bahwa ia masih memerlukan
jawaban, “Eh iya Kenal, kenapa? Kamu juga kenal sama Faza, Mut?” tanyaku sambil
menatap Mutia.
Mutia menggeleng, “Nggak
apa-apa, aku cuma nanya. Tapi, aku emang kenal juga sama dia,” jawab Mutia
menjelaskan. Lalu dia kembali bertanya, “Kok kamu bisa kenal sama dia, Tis?”
tanya Mutia kemudian
“Jadi gini, dia
dulu teman ngaji aku Mut, tapi nggak tahu kenapa belakangan ini dia sering
curhat via sms sama aku, karena aku teman yang baik dan tidak sombong ya aku
ladeni saja curhatan dia, padahal sebelumnya kami udah lost contact lho,”
kataku sambil tersenyum.
Mutia pun tersenyum mendengar jawabanku. “Ah, kamu.”
“Nah, kalau kamu, kenal sama Faza di mana?” tanyaku
langsung pada Mutia.
“Sebenarnya aku nggak
kenal langsung sih sama Faza. Jadi, waktu itu, aku dan Dhiya mau berenang. Nah,
ternyata Dhiya itu temen SD Faza, Dhiya pun sempet ngobrol sama Faza dan
bertanya tentang SMP-nya. Saat itu, Faza jawab kalau dia diterima di SMP 217.
Yah, bisa dibilang kalau aku cuma kenal nama Faza aja, palingan kalau kamu
nanya sama Faza tentang aku, dia lupa,” jelas Mutia panjang lebar.
Aku mengangguk-angguk
mendengar Mutia bercerita. Kemudian Mutia kembali bertanya, “Memang kalau
kalian smsan, Faza cerita apa aja sih Tis?” tanya Mutia.
“Yaa, banyak deh Mut,
tentang berapa kali dia pacaran, terus dia pernah suka sama Egi, tapi pas dia
nembak di tolak. Dia juga cerita pernah ketemu Delia dan langsung jatuh cinta
pada pandangan pertama, ya tapi ya gitu, pas nembak Delia juga nolak.. Akhirnya
dia bilang sama aku mau sendiri dulu deeh,” jelasku panjang lebar.
Mutia tertawa
terbahak-bahak sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Heeh Mut, biasa aja
kali ketawanya...” kataku kepada Mutia.
Mutia langsung berhenti
tertawa, “Eh, btw, kamu suka Faza, Tis?”
Aku
tertegun mendengarnya. Sebenarnya sih sangat mudah menjawabnya, tinggal bilang
“iya” atau “tidak”. Namun, aku sendiri bingung menentukan sikap. Akhirnya, aku
hanya menaikkan bahu tanda tidak tahu. Mutia mengerutkan kening, tetapi dia
tidak bertanya lebih lanjut.
“Tis, udah sore nih, anterin aku pulang yuk!” Pinta
Mutia. Seperti biasa, Mutia memang sering memintaku mengantarnya sampai di
rumah.
“Tapi ‘kan, nggak ada
motor, Mut. Aku nganterin kamu pakai apa?” tanyaku dengan muka memelas.
“Naik ojek aja atau
jalan kaki sekalian Tis, woles,” kata Mutia.
“Oke, ayo kita pulang!”
ajakku pada akhirnya.
Aku dan Mutia pun beranjak dari bangku dengan harapan
menemukan tukang ojek. Namun, tidak ada tukang ojek satu pun. Jalan terakhir
yang harus kutempuh ya tentu saja jalan kaki. Entah ini takdir atau atau apa,
tiba-tiba di tengah jalan aku melihat Faza. Dengan spontan aku berteriak
“FAZAAAAAA‼” tetapi Faza tidak menoleh kearahku.
Mutia menutup kedua telinganya karena mendengar
teriakanku. Ia berkata “Aduh Tisaaaa, kalau mau teriak jangan di kuping aku
juga kali... Kuping aku kan jadi pengeng Tis, kamu mah teriak nggak kira-kira
sih...” muka Mutia begitu melas saat berkata itu kepadaku.
Aku tertawa,
“Haduuh..... Hehehe maaf Mut,” jawabku terkekeh-kekeh.
“Tisaaa... Tissaaaa...”
kata Mutia sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah mengantarkan
Mutia, aku pulang ke rumah. Sesampai di rumah, kembali kutengok handphone-ku
yang tergeletak di kasur. Entah mengapa aku menunggu balasan pesan yang kukirim
tadi kepada Faza. Aneh, biasanya aku tidak pernah berharap Faza membalas smsku.
Biasanya, aku yang terlebih dahulu mengirim sms padanya. Namun, hari ini, Faza
yang lebih dulu mengirim sms. Entah kenapa, ada rasa lain yang muncul ketika
aku mengetahui dia mengirim pesan kepadaku lebih dulu. Rasa apa ini? Aku
berharap rasa ini tidak akan meninggalkan luka di hati.
Semenjak perasaan yang
tak menentu itu, aku jadi lebih sering SMS-an dengan Faza, kami jadi sering
curhat satu sama lain. Rasa suka yang awalnya hanya sedikit, kini semakin
membesar. “Aduh bagaimana ini? Dia ‘kan temanku, bahkan aku sudah menganggapnya
seperti sahabat sendiri, masa aku suka sama dia?” dalam hati aku bertanya-tanya
cenderung gelisah. “Duh, pasti jika nanti aku bertemu langsung dengannya,
sikapku jadi berbeda,” batinku.
Seperti biasa, hari ini
aku les dengan Mutia, sepulang les aku bertemu dengan Faza, karena kebetulan
aku satu tempat les dengan dia, hanya saja berbeda kelas dan waktunya. Benar
saja, saat bertemu Faza, aku hanya bisa diam. Aku tidak bisa mengeluarkan
sepatah kata pun kepadanya, entah karena apa aku dag-dig-dug. Aku langsung
menarik tangan Mutia agar buru-buru pulang.
Aku dan Mutia langsung
menuju tempat favorit kami dan memesan minuman. Lalu aku duduk manis sambil
memainkan handphone-ku.
“Tis, kamu kenapa sih?
Agak beda hari ini? Kamu menghindari Faza?” tanya Mutia beruntun.
Aku hanya menggeleng. “Aku masih bingung, Mut.”
Mutia terlihat ingin bertanya lagi, tetapi minuman kami
telah datang. Karena haus dan memang bermaksud menghindari pertanyaan Mutian,
aku langsung menghabiskan minumanku. Ternyata mutia juga sudah menghabiskan
minumannya, akhirnya aku mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumah aku
membuka handphone-ku dan ternyata ada pesan masuk. Aku terkejut setelah
mengetahui siapa yang mengirim pesan kepadaku.
“Fazaaaa? Haduh dia
mengirim pesan apa ya kepadaku?” tanyaku.
Setelah aku membuka
pesan itu, aku merasa senang walau pesan yang Faza tulis sangat singkat, hanya
memanggil namaku, “Tis?”. Namun, di samping rasa senang ada rasa takut yang
terus menghantuiku. Faza terkenal dengan sebutan playboy. Dia suka berganti
pacar. Aku takut rasa ini akhirnya akan membuatku sakit.
Seperti biasa Faza
mengirim pesan kepadaku, tetapi aku sedang mencoba untuk menghindar dari Faza,
aku takut sakit hati, apalagi sewaktu aku tahu kalau perasaan sayang ini benar-benar ada. Aku
sempat membuat status di jejaring sosial, kurang lebih bunyinya, “Jatuh cinta
pada seorang playboy”. Faza sepertinya menyadari bahwa yang aku maksud dengan
playboy itu adalah dirinya. Dan dia pasti akan memberikan harapan palsu
kepadaku.
Oleh karena itu, aku
tetap berusaha untuk tidak membalas pesan itu, tetapi Faza terus-menerus
mengirim pesan sampai notifikasiku penuh dengan nama Faza.
Maksudnya apa sih ini?
Terus saja dia mengirimkan aku pesan. Apalagi dia bertanya-tanya kepadaku
tentang pengakuanku di jejaring sosial itu. Aku pun sudah tidak kuat lagi,
akhirnya aku putuskan untuk membalas pesannya itu dengan singkat. Akhirnya kami
berdua mengakui tentang perasaan kami masing-masing. Setelah adanya pengakuan itu,
aku jadi merasa ada yang mengganjal dalam hatiku. Aku merasa sikapku kepadanya
menjadi berbeda.
Hari Sabtu, tanggal 27
Oktober aku main di rumah mutia. Aku iseng memegang handphone Mutia dan
mengirim pesan via whatsapp kepada Faza .
“Za?” tulisku melalui handphone Mutia.
“Za?” tulisku melalui handphone Mutia.
Setelah aku
tunggu-tunggu balasan dari Faza siang itu, ternyata tidak ada balasan. Aku
sudah di suruh pulang sama Ibu, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sore itu, tiba-tiba ada
pesan masuk via whatsapp dari Mutia.
“Tis, Faza balas
whatsapp di nomorku yang kamu kirim tadi siang,” isi pesan itu.
“Dia balas apa Mut?”
tanyaku penasaran.
“Dia balas “ini siapa?”
terus aku jawab “ini Mutia, tadi yang nge-whatsapp si Tissa” Faza balas “Ohh
yasudah, salam kenal ya” gitu Tis,” balas Mutia.
“Oh gitu, sip deh,”
balasku lagi kepada Mutia.
“Iya,” balas Mutia lagi
kepadaku.
Seminggu kemudian, di
sekolah pada saat jam olahraga, tiba-tiba aku di panggil sama Mutia dan Lila.
Awalanya aku bingung, sedikit perasaan cemas. Zico yang sedang bermain bulu
tangkis juga dipanggil oleh Mutia dan Lila. Aku semakin heran.
“Ada apa ini? Apa yang
mereka sembunyikan dariku?” batinku cemas.
Setelah aku, Mutia,
Lila, dan Zico sudah berkumpul. Mutia, Lila, dan Zico masih tertawa-tawa, aku
hanya bisa diam melihat mereka tertawa. Aku bertanya kepada mereka.
“Kenapa? Kok tumben
manggil aku? Ada urusan penting?” tanyaku kepada mereka.
Mereka bingung siapa
yang mesti mengawali pembicaraan, Zico menyuruh Lila, Lila menyuruh Mutia,
Mutia menyuruh Lila. Aku semakin bingung dengan tingkah laku mereka.
“Ada apaan sih? Jangan
buat aku jadi bingung dong!” kataku lagi untuk memulai pembicaraan.
Mereka tetap saja tidak
memedulikan pembicaraanku. Aku berdiri dan hampir beranjak dari tempatku,
tetapi Lila menarik tanganku dan menyuruhku duduk kembali. Aku mengikuti
perintah Lila.
“Hmm, jadi gini Tis,”
Lila memulainya dengan nada ragu.
Aku hanya bisa terdiam.
Akhirnya Lila memulai pembicaraan lagi, “Kan waktu itu kamu nge-whatsapp Faza
pakai handphone Mutia,” Lila berhenti sejenak dan menatap Mutia dan Zico. Lila
melanjutkan lagi “Nah, semenjak itu mereka jadi sering whatsapp-an, setelah
beberapa hari kemudian, Faza menembak Mutia.”
Mendengar hal itu, jantungku berdegup kencang. Faza
menembak Mutia? Tega sekali Faza. Mutia juga, kenapa dia tetap whatsapp-an
dengan Faza? Bukankah dia sudah tahu bahwa aku menyukai Faza? Aku merasa
dikhianati. Aku kecewa. Sedang asiknya aku berpikir sendiri, Lila melanjutkan,
“Tapi, Mutia udah nolak Faza, kok.”
Aku hanya bisa terdiam,
tak bisa berkata sedikit pun. Aku tetap merasa kecewa dan hatiku terasa sangat
sakit. Tanpa kusadari airmataku menetes sedikit demi sedikit. Tanpa berkata
sepatah kata pun aku berlari meninggalkan mereka. Biarlah, mereka berpikir aku
marah karena memang aku sangat marah. Entah kepada Faza atau Mutia yang
merupakan sahabatku sendiri.
Bel berbunyi, tanda
pergantian pelajaran. Aku dan teman-temanku yang lain ke kamar kecil untuk
berganti pakaian. Karena aku masih merasa sangat kecewa, aku tidak bisa menahan tangis lagi, akupun menangis.
Sangat kecewa, sangat sedih, sangat merasa dikhianati. Tetapi aku mencoba untuk
biasa dengan Mutia walau sebenarnya aku marah kepadanya. Tapi mau bagaimana?
Mutia tempat curhatku, dialah yang sering membantuku untuk menyelesaikan
masalah.
Sepulang sekolah, Mutia
mampir ke rumahku sebentar untuk beristirahat sejenak. Setelah beberapa saat
berdiam diri aku memutuskan untuk mengajak Mutia pergi ke Gramedia. Aku dan
Mutia beranjak dari rumah dan menuju Gramedia. Setelah aku memilih-milih,
akhirnya aku mendapatkan buku yang aku mau. Mutia mengajakku ke tempat
karaokean. Aku memesan sebuah ruangan. Aku dan Mutia memasuki ruangan itu.
Mutia memiliki pemikiran lain, dia berkata “Tis, ajak Faza aja yuk!” kata mutia
kepadaku.
Aku hanya bisa terdiam,
akhirnya aku menjawab pertanyaan Mutia itu, “Ajak aja Mut,” kataku mencoba
biasa, padahal hatiku masih terasa perih dengan kenyataan yang ada.
Melihat perubahan
ekspresiku, Mutia bertanya dengan muka cemas, “Tapi kamu nggak apa-apa ‘kan,
Tis?”
“Aku nggak apa-apa kok,”
kataku. Tetapi di dalam hatiku ada yang mengganjal saat menjawab pertanyaan
itu, aku mencoba biasa di depan Mutia.
Akhirnya Mutia menelepon
Faza agar dia datang ke tempat karaokean. Tanpa berpikir panjang, Faza pun
tidak menolak ajakannya. Sesampainya di sana, Faza menyuruh Mutia keluar untuk
menemuinya. Namun, aku yang keluar dan mengajak Faza masuk ke ruangan.
Faza duduk, ia memulai pembicaraan, “Kita jadian sekarang
aja yuk, Mut,” ucap Faza kepada Mutia. Aku hanya terdiam, tidak bisa berkata
apa-apa. Mutia menolak ajakannya. Mutia banyak cerita dengan Faza, aku
memperhatikan mereka berdua. Hatiku menahan sakit melihatnya. Akhirnya waktu
karaokean sudah habis, kami pun bergegas keluar. Karena kami lapar, kami
mencari tempat makan. Sesampainya di tempat makan, aku dan Mutia memesan
makanan. Setelah makanan itu datang, kami memakan makanan kami masing-masing.
Waktu sudah mulai sore, aku, Faza, dan Mutia bergegas pulang.
Selama beberapa hari,
Mutia mencoba meminta maaf padaku. Bahkan dibantu oleh Lila dan Zico. Akumemaafkan Mutia walaupun masih ada perasaan sakit di dalam hatiku. Tetapi,
mungkin rasa sakit yang sakit membuatku masih bersikap dingin di depan Mutia.
Aku sedang
bercanda-canda dengan Mutia dan Lila, kami bermain Truth Or Dare (Jujur atau
Tantangan). Ketika Mutia kena giliran, Mutia memilih jujur, aku bertanya, “Mut,
kamu sayang sama Faza?” tanyaku kepadanya
“Enggak kok,” jawabnya
singkat.
“Yakin kamu nggak sayang
sama Faza?” tanyaku
“Iya. Emang kenapa sih
Tis? Kamu selalu aja nanya itu kepadaku?” jawabnya dengan nada sedikit kesal.
“Ya nggak apa-apa, kamu
mau jadian sama Faza?” tanyaku lagi.
“Kalau misalnya aku
jadian sama Faza, memang kamu rela?” tanyanya lagi kepadaku.
“Hmm,” aku terdiam
sejenak, “yaa, nggak sih Mut, masih rada gimana gitu,” lanjutku lagi.
“Ya sudah, jadi maunya
gimana sekarang? Aku lihat kamu masih bersikap berbeda dingin sama aku. Aku
pengen kita kembali bersahabat seperti dulu,” kata Mutia pasrah.
“Kamu bisa nggak, nggak
whatsapp-an lagi dengan Faza?” tanyaku santai.
Mutia terdiam. Dengan
pelan, dia menjawab, “Ya kalau itu memang mau kamu, InsyaAllah aku bisa.”
“Kalau memang kamu bisa,
nanti malam kamu telepon Faza, bilang kalau kamu ingin menjauh dari dia,”
kataku.
“Iya nanti malam aku
ngomong sama Faza,” janji Mutia.
“Oke deh. Hey, sudah
sore nih Mut, pulang yuk!” Ajakku ke Mutia.
“Ayo deh Tis. Lil, kami
pulang dulu ya. Dadah Lila,” jawab Mutia sambil melambaikan tangannya kepada
Lila.
Aku dan Mutia menuju
rumah masing-masing. Sesampai di rumah, aku masih bertanya-tanya. Apakah Mutia
benar akan mengatakan hal itu kepada Faza? Sebenarnya, aku melakukan ini hanya
ingin persahabatan aku dan Mutia kembali seperti dulu, tanpa adanya Faza. Jika
mereka jadian, tentunya aku merasa sakit dan persahabatan kami tidak akan sama.
Terlebih berita yang kudengar, Faza sangat playboy, aku saja yang menyadari
menyukai Faza merasa ragu untuk tetap suka padanya atau tidak. Aku takut Mutia
akan sakit hati jika berpacaran dengan Faza karena ke-playboy-annya. Tanpa
sadar, aku pun tertidur.
Hari sudah mulai pagi,
aku harus mengerjakan aktivitasku seperti biasa. Sesampai di sekolah, Mutia
yang sudah datang lebih cepat dariku dan langsung memanggilku, “Tiss?”
panggilnya agak sedikit teriak
“Ya?” jawabku sambil
menghampirinya.
“Tadi malam aku udah
menelepon Faza. Aku udah bilang semuanya kepada Faza. Dia sedikit tidak rela
setelah mendengar perkataanku, tetapi karena aku lebih memilih kamu akhirnya
dia setuju dengan permintaanku,” jawabnya panjang lebar.
“Oh ya sudah,” jawabku
singkat.
“Jadi sekarang kita
sudah baik-baik saja kan Tis? Mulai sekarang kita harus buka lembaran baru
lagi, aku nggak mau seperti ini terus, aku tau bagaimana sakitnya, sekali lagi
aku minta maaf ya Tis. Aku mau kita seperti dulu lagi,” Mutia memohon sambil
tersenyum.
“Oke deh Mut, kita harus
buka lembaran baru lagi. Sekarang sudah tidak ada masalah lagi di antara kita
berdua, tidak ada nama Faza lagi,” kataku sambil membalas senyuman Mutia
Akhirnya aku dan
Mutia berteman kembali, tidak ada masalah lagi di antara kita berdua. Aku dan
Mutia pun menjalankan hidupku seperti biasanya.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar Faza sudah jadian
dengan seseorang bernama Putri atau siapalah namanya. Aku tidak peduli. Aku
sudah tidak ada perasaan sedikit pun padanya. Maklumlah playboy, tidak bisa
menjomblo dalam waktu lama. hehe
TAMAT!


2 komentar:
Wkwkwkwk
apaan si dji?
Posting Komentar